Assalamualaikum kata bermula
Kepada Tuan serta Saudara
Cara berpantun hamba berkata
Untuk menghidupkan budaya kita.
Pulut kuning Pulut pengupah
Letak tersusun atas cerana
Hilang sedih gilang susah
Upah-upahlah pula jadi ubatnya.
Tepuk tepuk sibatang kayu
Sesat seekor siikan baung
Tepung tawar budaya Melayu
Datang semangat, elok diuntung

bercerita mengenai tepung tawar, Kebetulan penulis adalah praktisi pengobatan tradisional urut-mengurut / pijat urat, walau tidak membuka praktek resmi, penulis sering menerima konsumen yang memiliki keluhan dibadannya dan minta untuk di berikan terapi urutan di badannya, biasanya setelah melakukan urutan, banyak pasien yang memberikan seuatu sebagai pembayar jasa pengobatan sambil mengatakan “ tolong diterima, ini tepung tawarnya..” bentuknya bisa macam-macam, dari bentuknya berupa uang, kelapa, beras, telor, ayam hingga garam dan merica.

Ternyata budaya tepung tawar masih sangat melekat dalam memori kolektif masyarakat melayu dalam menyikapi suatu pristiwa tertentu dengan pemaknaan / filosofi yang bisa bermacam,-macam, dari sebagai “syarat” penolak balak/kejelekan, memanjurkan doa/menajamkan, sebagai bentuk rasa sukur hingga sebagai upaya memohon semua kebaikan/mengundang tuah kepada Ilahi.

Terlepas nilai filosofinya, tepung tawar adalah sebuah ritual yang “jamak” dalam semua sistem masyarakat melayu Nusantara dengan variasi variasi yang khas dari masing-masing daerah, menurut KBBI Tepung Tawar adalah tepung beras yang dicampurkan dengan air dan daun setawar serta daun lainnya untuk di jampi dalam sebuah ritual, tetapi dalam pelaksanaan tepung tawar di negeri-negeri melayu, banyak tidak menggunakan tapung campur air sebagaimana disebut diatas, tetapi telah berubah karena adanya asimilasi dengan budaya lainnya terutama dengan agama islam.

Dalam masyarakat melayu Riau, dikenal dengan istilah tepuk tepung tawar, dijelaskan dalam website lamriau.id. Tepuk tepung tawar adalah bertujuan sebagai ritual yang mengiringi siklus kehidupan manusia melayu, dari dia lahir hingga meninggal dunia. dalam siklus kehidupan manusia, dia mengalami banyak peralihan tahapan kehidupan dan dalam perobahan tahapn tersebut, diperlukan inisiasi penguatan semangat baru hingga manusia melayu dapat sukses menjalani tahapan-tahapan tersebut. Dengan tujuan memberikan penghargaan dalam proses peralihan tersebut, mengharapkan kebaikan dan menolak kejelekan yang ada sehingga siklus menjadi lancar menujuk kejayaan.

Pada Negeri Palembang, ada tiga macam tepung tawar yang masih dikenal, yaitu tepung tawar untuk pernikahan (biasa bertepatan dengan prosesi cacap-cacapan), tepung tawar tolak balak dan teung tawar perdamaian. Di kota Palembang, tepung tawar tidak menggunakan tepung dan air sebagaimana di negeri melayu lainnya, tetapi menggunakan ketan kunyi/Punar (ketan yang direndam dengan air pati kunyit) dan panggang ayam (ayam dipanggang utuh), Bila pada Tepuk Tepung Tawar di Riau, yang menepuk adalah orang yang patut(tetua adat/guru/ustad/orang tua/raja/sultan) maka hampir sama di Palembang, Ketan kunyit dan panggang ayam tersebut akan disuapkan (nulangi) kepada yang di ritualkan, oleh para orang yang patut tersebut secara bergantian, ritualk tepng tawar di Palembang sering dilakukan terkait
• Adat Perkawinan
• Nimbang Bunting, yakni selamatan usia kandungan ibu hamil 7 bulan sebelum melahirkan. Kelahiran/Ngunting (peresmian nama bayi/marhaba).
• Adat Menamatkan (Tamat mengaji al-Qur’an).
• Syukuran, dsb
Setelah melakukan suap ketan kuning tersebut, biasanya dilanjutkan dnegan sedekah nasi gemuk atau sedekah opak yang dibagikan ke tetangga sekitar rumah

Menurut Sesepuh adat di Medan, Tuan Lukman Sinar Basharshah II, Tepung tawar adalah sebuah ritual penting dalam masyarakat melayu, bukan hanya dilakukan dikala senang tetapi juga dilakukan dikala sedih dan susah. Dalam masyarakat Medan, tepung tawar adalah salah satu upaya menyatakan bentuk rasa ikhlas dan syukur kepada Allah atas semua karunia yang diberikan, tepung tawar di Negeri Medan secara umum hampir sama dengan tepung tawar yang dilakukan di Negeri Riau,

Selain Tepung tawar dimedan dikenal juga kegiatan yang disebut “Upah-Upah” yaitu sejenis prosesi tepung tawar, tetapi Upah-Upah, dilakukan untuk suatu kebanggaan, menjemput semangat, memberi motivasi. Makanya ada banyak macam upah-upah diantaranya :
• Upah-Upah saat perkawinan : agar yang menikah memiliki semangat untuk membina hidup baru
• Upah-Upah saat khitanan : agar yang dikhitan memiliki semangat kembali dan tidak menjadi semacam kapok begitu.
• Upah-Upah Songgot/Terkejut : dilakukan kepada orang yang baru mendapat musibah, kecelakaan, sakit dsb. biasanya yang di upah-upah tidak tahu bahwa dia bakal-diupah-upah
• Upah-Upah memanggil semangat : dilakukan kepada orang yang sakit, agar dia memiliki semangat dan memiliki semangat untuk sembuh.
• Upah-Upah saat akan melaksanakan ibadah haji.

Upah-Upah biasanya dilakukan dengan menggunakan Pulut Bale, merupakan suatu tempat yang terbuat dari kayu memiliki kaki 4 buah dan tempat yang bertingkat-tingkat. di dalamnya ada pulut yang diberi kunyit sehingga berwarna kuning, di atasnya ada ikan bakar/ayam bakar, pada pulut ditancapkan Merawal (bendera kertas) dan digantung telur ayam. Dipuncaknya ditancapkan Kepala Balai.

Tepung tawar di Kalimantan sebagai negeri melayu, juga menarik, saya cuplik dari blog ayu febriyani mengenai tepung tawar di kelimantan masyarakat Melayu dan Suku Dayak terutama di daerah Kalimantan Barat (Kalbar). pada masyarakat umum, upacara tepung tawar yang dikenal ada empat jenis. Yakni Tepung Tawar Badan, Tepung Tawar Mayit, Tepung Tawar Peralatan serta Tepung Tawar Rumah.

Dalam blog Moh.Fajrin mengenai Upacara Tepung Tawar, dari empat jenis Tepung Tawar tersebut masing-masing mempunyai perbedaan baik yang menyangkut peralatan maupun bahan-bahan yang dipergunakan. Seperti Tepung Tawar Badan, komposisinya terdiri dari tepung beras, beras kuning, bertih, daun juang-juang, daun gandarusa, daun pacar, minyak bau (minyak Bugis).

Tradisi tepung tawar badan juga diperuntukan bagi anak kecil yang melaksanakan gunting rambut atau naik ayun (naik tojang), juga dalam melaksanakan pernikahan, khitanan bagi laki-Iaki dan perempuan. Objek yang akan diberikan menurut tata cara yang berlaku, serta dilampas dengan memakai daun juang-juang, maupun daun ribu-ribu yang telah di celupkan pada seperangkat peralatan tepung tawar.

Dalam kehidupan moderen ini, pergeseran nilai dan bentuk ritual tepung tuah tidak dapat dihindarkan, banyak yang menjadikan alasannya seperti susahnya mencari perlengkapannya , tidak ada waktu untuk melaksanakannya, hingga tidak adanya tetua adat yang masih mengerti mengenai tepungtawar ini. Namun sebagai bangsa yang besar yang seharusnya menghargai adat istiadat yang luhur, kita harus dapat melestarikannya sebagai salah satu idetntitas kemelayuan yang memiliki nilai dan filosofi kehidupan yang tinggi.
(dihimpun dari berbagai sumber)

Tabik pun..

(Visited 19 times, 1 visits today)
Sekilas mengenai Tepung Tawar di Dunia Melayu (B.M)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *