Penulis adalah ahli Filologi Muda asal Sumsel : Muhammad Daud Bengkulah


Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Nusantara. arti Pesantren sendiri menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tempat murid-murid belajar mengaji dan sebagainya. Sejarah mencatat tidak sedikit para tokoh di republik ini lahir dari rahim pesantren seperti Wahid Hasyim, Syaifuddin Zuhri dan sebagainya. Menurut laporan Martin Van Bruinessen pesantren tertua di jawa adalah pesantren Tegalsari yang didirikan pada tahun 1742 M. Lebih lanjut, Martin mengatakan bahwa anak-anak muda di pesisir utara Jawa belajar agama islam. Lain halnya dengan Martin, Soebardi justru berpendapat bahwa pesantren tertua adalah pesantren Giri sebelah utara Surabaya, Jawa Timur yang didirikan oleh Sunan Giri pada abad ke-17 M. (Soebardi S, 1978, hlm.68). Disamping itu, menurut Mastuhu, pesantren tertua ada sejak abad ke-13-17 seiring dengan masuknya islam di Nusantara, pendapat ini kemudian dikuatkan oleh Dhafier. Disamping itu,Husni Rahim justru menemukan pondok pesantren terawal di Palembang sumatera selatan baru abad ke-20 M. yaitu pondok pesantren Nurul Islam Seribandung Ogan Ilir yang didirikan oleh Syekh Anwar bin H.kumpul pada tahun 1932 M. Zamaksyari Dhofier merumuskan kriteria pondok pesantren yaitu meliputi tiga unsur pertama Kiyai, kedua Santri, dan ketiga sarana fisik. Berdasarkan Naskah Serat centhini Dhofier menyimpulkan bahwa pada abad ke-16 M sudah banyak pesantren-pesantren masyhur di Indonesia menjadi pusat pendidikan Islam.
Kalua kita merujuk kriteria pesantren yang dirumuskan oleh Dhofier, maka pesantren tertua ada di Muara Enim Sumatera Selatan yang didirikan pada abad ke-15 M oleh empat ulama yaitu Syekh Jalaluddin, Syekh Jakfar Shadiq, Syekh Ahmad Muhammad, dan trakhir Syekh Yusuf Ibrahim. Syekh jalaluddin dipercaya sebagai pimpinan. Mereka membuat empat puluh pemondokan sesuai jumlah santri yaitu empat puluh orang. Informasi tentang Syekh Jalaluddin dan cakal bakal pondok pesantren di muara enim terdukumenasi cukup baik dalam naskah kuna Tanjung Raman. Naskah tersebut ditulis dengan aksara ulu dan alat naskanya dari kulit kayu. Naskah kuna tanjung raman sudah di alih aksarakan pada tahun 1972 atas inisatif pemerintah setempat.
Tertulis dalam naskah :
Maka sepakatlah mehieke jalan bersama menuju ayik lematang. Tibalah meheke di muahe hening diputus kate menetap di muahe hening ayik lematang guna menyebar Igame selam. Dikumpul huning diberi ilmu seuhang mendapat sepuluh muhid syekh jalal sepuluh muhid, syekh Ahmad Muhammad sepuluh muhid, syekh Yusuf Ibrahim sepuluh Muhid, syekh Jakfar shadiq sepuluh muhid. Itulah asal mula uhang muara hening tekate patang puluh bubungan temblang .sepakat dikate mehike menunjuk Syekh Jalaluddin menjadi haje patang puluh bubungan di muahe hening temblang.
Terjemah :
Ke empat ulama tersebut sepakat untuk menyebarkan agama Islam di muara enim, mereka mencari murid, maka terkumpulah empat puluh murid, syekh jalal mendapat sepuluh murid, syekh Ahmad Muhammad dapat sepuluh murid, Syekh Yusuf Ibrahim mendapat sepuluh murid, Syekh Jakfar Shadiq mendapatkan sepuluh murid. Mereka membuat pemondokan sesuai jumlah murid tersebut yaitu empat puluh pemondokan yang disebut sebagai “Patangpuluh bubungan Tembelang” mereka sepakat menunjuk syekh jalal sebagai pimpinan.
Syekh Jalaluddin datang ke Nusantara pada tahun 1423 M penduduk Muara Enim menyebutnya sebagai “Puyang karang Enim”. Makamnya terdapat di desa karang raja kecamatan Muara Enim Sumatera Selatan.

Ciputat 7 Desember 2020

(Visited 94 times, 1 visits today)
PONDOK PESANTREN ABAD KE-15 DI MUARA ENIM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *